Telah sekian lama sekolah menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun manusia. Namun akhir-akhir ini seolah sekolah menjadi pihak yang terpojokan dan paling bertanggung jawab atas merosotnya kehidupan yang beradab. Banyak ahli manajemen, dan pengamat pendidikan urun rembug dalam usaha perbaikan. Tidak sedikit diantaranya adalah para tokoh agama. Hal itu dikarenakan banyak tokoh agama adalah pengelola sekolah. Namun demikian, sekolah yang dikelola para tokoh agama tidak dengan sendirinya terlepas di atas.
Saya sendiri adalah seorang guru, sekaligus berkecimpung secara langsung di dunia pendidikan sekolah formal. Saat ini saya terlibat mengelola sekolah yang memiliki ribuan murid dari TK sampai SMA. Sekolah ini berciri agama yang menghargaio perbedaan dan keragaman. Dari diskusi, seminar dan workshop nasional dan studi-studi banding yang saya ikuti, saya bersama dengan teman-teman menyusun sebuh konsep pendidikan yang berbasis nilai yang kami rancang dalam rangka pendidikan karakter.
Ada empat bidang pengembangan:
1. Bidang intelektual
2. Bidang moral
3. Bidang kebangsaan
4. Bidang kecakapan hidup
Empat bidang pengembangan tersebut diturunkan ke dalam tiga wilayah pengembangan kurikulum:
1. Wilayah penguasaan: artinya kami membuat kurukulum dengan menetapkan standar penguasaan yang harus dikuasi oleh siswa secara minimal. Penetapan ini dilakukan berdasarkan pada kekuatan dan kelemahan. Siswa, guru, dan sarana penunjang. Pencapaiannya sangat terukur karena ditetapkan dalam bentuk SKM (Standar Ketuntasan Minimal)
2. Wilayah organic adalah wilayah dasar yang harus dikuasai siswa. Lebih tepat yang harus dihidupi siswa dan semua guru dan semua pihak yang terlibat termasuk oran tua, dan para anggota lembaga kemitraan. Pencapaiannya dilakukan melalui indicator-indikator yang dirumuskan. Wilayah ini adalah wilayah nilai-nilai yang dihidupi. Kami memiliki skala prioritas nilai yang dihidupi setiap tahunnya. Kegiatan siswa baik di dalam kelas dalam proses belajara megnajar maupun kegiatan di luar kelas dalam bentuk ekstrakurikuler dilaksanakan berbasis pada penghidupan nilai-nilai. Untuk menunjang pelaksanaannya, para siswa dan para guru membuat komitmen bersama dimana melalui komitmen tersebut para siswa dan guru belajar melakukan pembiasaan positif. Dalam arti ini sekolah menjadi sarana belajar mengajar, baik guru maupun murid. Bukan hanya murid yang belajar tetapi juga guru.
3. Wilayah pengayaan, yang dilakukan dalam bentuk kegiatan-kegiatan tambahan. Kegiatan tambahahan merupakan sarana untuk melayani para siswa yang memiliki kemampaun lebih cepat dalam penguasaan materi wilayah penguasaan. Pada wiliyah ini, kami juga merancang beberapa kelompok pengembangan potensi siswa seperti English Club, mathematic club dst.
Tata Kelola Nilai
Sekolah dikelola berbasis nilai. Artinya nilai menjadi ukuran dan acuan normati bagi setiap siswa, guru, kepala sekolah, pengelola dan orang tua siswa. Guru dikritik jika tidak menghidupi nilai pendidikan demikian juga dengan siapa saja. Kegiatan dirancang untuk mengembangkan rasa bangga para guru dan siswa karena disadari bahwa ketika setiap orang merasa bangga dan berharga, dia akan melakukan apa saja untuk pengembangan sekolah. Kebanggaan dan keberhargaan adalah nilai dalam kehidupan ini. Dan bahkan sejak dahulu kala manusia adalah berharga di mata Tuhan. Konsep ini diwujudkan dalam pembelajaran di kelas yang menghargai siswa sebagai subjek ajar. Pertanyaan dan masukan dari siswa adalah bagian dari materi ajar yang direspon guru secara psotifif.
Kami memiliki standar pendidikan yang mengakomodasi nilai-nilai tersebut. Cara kami menghidupi nilai-nilai itulah yang pada akhirnya membedakan kami dengan sekolah lain.
Selasa, 25 Agustus 2009
Selasa, 07 April 2009
ANTUSIASME, SENI MENDENGARKAN DAN HUMOR DALAM RANGKA MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DI KELAS
BAB I
PENDAHULUAN
ABSTRAK
Salah satu unsur fundamental untuk membangun sekolah yang berkualitas adalah guru. Guru adalah penentu bagi keberhasilan sekolah karena gurulah yang merancang pembelajaran di kelas. Kualitas guru menentukan kualitas pmbelajaran dikelas. Dan kualitas pembelajaran terkait erat dengan efektivitas pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh banyak factor, seperti sarana pembelajaran, dukungan financial dan kompetensi guru. Terdapat tiga unsur dalam diri guru yang sangat menentukan efektivitas pembelajaran, yaitu antusiasme, seni mendengarkan dan humor.
Antusiasme merupakan spirit/semangat guru yang secara psotif akan tertransfer kepada siswa. Antusiasme yang positif akan menular secara positif sementara kelesuan akan menjadi virus yang mematikan semangat siswa. Seni mendengarkan adalah factor penting dalam rangka membangkitkan rasa dihargai. Perasaan dihargai yang tumbuh dalam diri siswa akan mendorong dirinya belajar menghargai orang lain, termasuk guru. Berawal dari penghargaan ini tumbuh kemauan yang kuat untuk belajar. Demikian juga dengan humor. Humor yang baik akan mencairkan suasana yang kaku. Humor mampu menumbuhkan hormon positif dalam diri siswa sehingga membangkitkan gairah dan kesegaran. Dengan gairah dan kesegaran, siswa akan senang belajar. Belajar menjadi menarik. Dengan ketiga unsur tersebut, seorang guru dapat menyampaikan pembelajaran secara efektif.
PENDAHULUAN
ABSTRAK
Salah satu unsur fundamental untuk membangun sekolah yang berkualitas adalah guru. Guru adalah penentu bagi keberhasilan sekolah karena gurulah yang merancang pembelajaran di kelas. Kualitas guru menentukan kualitas pmbelajaran dikelas. Dan kualitas pembelajaran terkait erat dengan efektivitas pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh banyak factor, seperti sarana pembelajaran, dukungan financial dan kompetensi guru. Terdapat tiga unsur dalam diri guru yang sangat menentukan efektivitas pembelajaran, yaitu antusiasme, seni mendengarkan dan humor.
Antusiasme merupakan spirit/semangat guru yang secara psotif akan tertransfer kepada siswa. Antusiasme yang positif akan menular secara positif sementara kelesuan akan menjadi virus yang mematikan semangat siswa. Seni mendengarkan adalah factor penting dalam rangka membangkitkan rasa dihargai. Perasaan dihargai yang tumbuh dalam diri siswa akan mendorong dirinya belajar menghargai orang lain, termasuk guru. Berawal dari penghargaan ini tumbuh kemauan yang kuat untuk belajar. Demikian juga dengan humor. Humor yang baik akan mencairkan suasana yang kaku. Humor mampu menumbuhkan hormon positif dalam diri siswa sehingga membangkitkan gairah dan kesegaran. Dengan gairah dan kesegaran, siswa akan senang belajar. Belajar menjadi menarik. Dengan ketiga unsur tersebut, seorang guru dapat menyampaikan pembelajaran secara efektif.
BAB II
LANDASAN TEORETIS DAN PEMBAHASAN
Manusia adalah makhluk pembelajar (animal rasionalis). Sebagai makhluk pebelajar, manusia merupakan homo sapiens atau makhluk bijaksana,dimana kebijaksanaan hanya akan mungkin dicapai melalui belajar. Pembelajaran di kelas merupakan tahap yang dilalaui manusia dalam proses menuju kepada kebijaksanaan. Bagaimana proses pembelajaran di kelas dilakukan ditentukan oleh konsep dan cara pandang terhadap manusia. Cara pandang manusia ini bukan hanya berpengaruh pada model pembelajaran di kelas tetapi juga pada kebenaran pengetahuan, yang akan menentukan kepada pencapaian kebijaksanaan manusia (homo sapiens) Hal ini merupakan permasalahan mendasar di dunia pendidikan formal. Secara lebih sederhana dapat dirumuskan bahwa pembelajaran yang efektif akan menentukan pencapaian kebenaran pengetahuan, yang menghantar manusia pada kebijaksanaan. Berikut ini secara berturut-turut akan dibahas sekilas landasan teoritis dan pembahasan.
A. Landasan Teoretis
1. Manusia Pembelajar
“Siapakah Manusia?” Jawaban atas pertanyaan siapakah manusia menjadi dasar konsep dan cara pandang manusia (penyelenggara, guru atau siswa) terhadap manusia dalam pembelajaran di kelas. Konsep tentang manusia bukan hanya menentukan praksis pembelajaran, tetapi memengaruhi bagaimana pengetahuan itu dicapai siswa. Menurut M Sastrapratedja (2004:4) manusia selalu dalam proses “menjadi” Ia tidak hanya being, tetapi becoming, suatu gerak, proses, transisi, yang tidak selesai. Kemanusiaan yang dicapai sampai tahap ini belum merupakan kemanusiaan yang sudah selesai atau definitive. Kondrat kemanusiaan seperti ini dinyatakan oleh Max Scheler, Adolf Portmann, dan Helmuth Plesssner sebagai “keterbukaan terhadap dunia”. Keberadaan atau eksistensinya adalah makhluk yang terus belajar, dan ketika ia tidak mau belajar, ia telah kehilangan eksistensinya. Pandangan ini menegaskan kepada kita bahwa eksistensi manusia adalah makhluk pembelajar. Ia sadar hanya dengan belajar dan terus belajar, ia akan sampai kepada kebijaksanaan (homo sapiens). Kesadaran diri sebagai makhluk pembelajar sekaligus menyadarkan akan keberadaan dirinya bersama dengan orang lain (exsist with) karena belajar selalu terkait dengan yang lain (others) Apakah konsekuensi pandangan ini terhadap pengetahuan dan pembelajaran di kelas?
2. Pengetahuan dan Pembelajaran
Pandangan yang dinamis terhadap manusia dimana eksistensi manusia selalu dalam proses “menjadi’ (becoming), yang memiliki keterbukaan terhadap dunianya membawa konksekuensi terhadap konsepsi pengetahuan. Pengetahuan bukan sekumpulan teori yang ‘mandeg’ hasil dari pemikiran seseorang yang diwariskan dari generasi kepada generasi. Kebenaran pengetahuan bersifat komulatif, artinya kebenarannya merupakan hasil refleksi yang terus berkembang. Pengetahuan yang ada merupakan hasil penyempurnaan dari pengetahuan sebelumnya. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang pada akhirnya mengklaim sebagai penemu pengetahuan.
Pengetahuan merupakan proses pembentukan yang dilakukan manusia yang berada pada proses menjadi. Pengetahuan bukan sekadar jawaban atas pertanyaan ‘what’ tetapi juga ‘how to’. Pada sisi ini pengetahuan sebagaimana pandangan konstruktivisme sangat cocok dengan pandangan terhadap manusia yang menuju pada proses menjadi (becoming). Pengetahuan yang dibentuk bersama siswa adalah pengetahuan yang membebaskan, artinya pengetahuan itu disusun dari refleksi bersama siswa, sesuai dengan konteks siswa dimana siswa mengetahui bagaimana pengetahuan ini dibentuk dan kebermanfaatanya. Setiap pengetahuan tidak berdiri sendiri dan bebas nilai. Pengetahuan selalu berciri social dan kontekstual. “setiap orang yang belajar sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri. Jadi siswanya dapat aktif dan terus meningkatkan diri dalam kondisi tertentu”[1]
Di Sekolah formal pembelajaran merupakan kegiatan inti dalam rangka pembentukan pengetahuan. Menurut Wina Sanjaya pembelajaran merupakan system kegiatan yang bertujuan, membelajarkan siswa[2]. Berdasarkan pendapat tersebut, tujuan pembelajaran adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain memotivasi siswa belajar. Ketika pembelajaran di kelas mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar mandiri maka pembelajaran dapat dikatakan berhasil. Sebagai sebuah system kegiatan, pembelajaran dirancang melalui perencanaan yang matang, dan dilaksanakan menurut urutan sesuai dengan disain pebelajaran. Di sini system kegiatan dilaksanakan dengan dukungan sarana atau media belajar yang memadai sehingga tujuannya tercapai, yakni membelajarkan siswa.
3. Efektivitas
Efektivitas dapat didefinisikan sebagai “kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengerjakan sesuatu yang memberi kontribusi kepada organisasi. Penekanan efektifitas terletak pada mengerjakan hal-hal yang benar dan tidak semata-mata mengerjakan hal-hal dengan benar” (the ability to identify and do the things that contribute to the organisation. The emphasis of effectiveness is on ‘doing right things’ and solely ‘doing things right)”[3]. Istilah efektivitas (effectiveness) diturunkan dari istilah efffect yang digunakan dalam konteks relasi cause-and-effect (sebab-akibat)[4]
James L. Gibson, dkk menunjukkan tiga perspektif efektivitas, yaitu efektivitas individu, efektivitas kelompok dan efektivitas organisasi. Efektivitas dikaitkan dengan hasil (performance).
James W. Walker mengartikan efektivitas terkait dengan hasil (results) yang dicapai dari strategi sumber daya manusia. Tujuan-tujuan yang dicapai merupakan efek dari aktivitas sumber daya manusia.{“Effectiveness is defined as the extent to which the human resource function supports the successful implementation of ideas and long-term busness plans and strategies. It relates results achieved to human resource issues and strategies (i.e., the effect of human resource activities on the achievement of business objectives)}.[5]
B. Pembahasan
Berdasarkan pendapat para tokoh di atas, pembelajaran yang efektive merupakan konsekuensi dari pandangan terhadap manusia. Berdasarkan padangan tentang manusia yang sedang dalam proses menjadi, guru akan memposisikan dirinya dan siswa sebagai pribadi yang belum selesai, artinya keduanya terus belajar dan saling mengajar. Pandangan seperti ini akan mendorong guru, dan guru akan mendorong siswa untuk antusias, belajar, dan oleh karena itu mau mendengarkan. Sebuah sikap rendah hati, sekaligus kritis seorang manusia pembelajar. Model pembelajaran yang dilaksanakan di kelas pun akan menjadi menarik karena guru tidak memposisikan siswa sebagai objek yang harus diisi, dan guru sebagai subjek yang harus mengisi. Guru akan memposisikan siswa sebagai subjek dan oleh kerena itu relasi guru menjadi relasi horizontal, bukan vertical. Guru akan menjadi guru yang siswa dan siswa juga akan diposisikan sebagai siswa yang guru. Guru tidak akan bediri di depan sebagai pihak yang paling tahu. Ia akan terbuka terhadap kritik dan masukan siswa, karena ia sadar bahwa pembelajaran adalah proses menjadi manusia yang berkembang menuju kepada keutuhan.
Berdasarkan pengamatan hasil belajar siswa, dan wawancara di kelas, efektivitas belajar disebabkan oleh kompetensi kepribadian guru. Kompetensi kepribadian yang dimaksud secara khusus menyangkut tiga hal, yaitu antusiasme, seni mendengarkan dan rasa humor.
Antusiasme adalah semangat yang tinggi seperti apa yang disampaikan Nelson Mandela: “Saya mengalami sendiri bahwa kita mampu menanggung hal-hal yang sebenarnya tak tertanggungkan jika kita dapat menjaga semangat hidup tetap tinggi meski tubuh kita disiksa. Keyakinan yang kuat adalah rahasia kesanggupan menanggung segala kekurangan. Semangatmu bisa penuh meskipun perutmu kosong”.
Guru-kendati pintar dan menguasai materi dengan baik-jika ia tidak antusias, tidak memiliki emosi positif maka siswa tidak akan bersemangat memperhatikan pembelajaran di kelas. Antusiasme guru ibarat suntikan darah segar bagi pasien yang sedang sakit. Antusiasme guru akan menular dan tertransfer kepada siswa sehingga siswa juga antusias dalam belajar.
Selain antusiasme, kemampuan mendengarkan merupakan kompetensi yang penting untuk membangun pembelajaran yahng efektif. Seni mendengarkan yang baik akan membangun rasa penghargaan dalam diri siswa. Siswa yang merasa dihargai akan menghargai guru dalam proses pmebelajaran. Banyak siswa gagal dalam pembelajaran karena guru tidak mampu menghargai siswa. Siswa yang merasa dihargai akan cenderung berperilaku desruktif di dalam kelas. Mendengarkan keluhan atau kritikan dan masukan siswa merupakan bentuk konkret penghargaan guru kepada siswa. Semua orang senang didengarkan. Dan adalah penghargaan bila didengarkan. Dengarkan siswa dengan baik, niscaya mereka akan senang mengikuti pembelajaran.
Hal lain yang tidak kalah penting dalam rangka pembelajaran yang efektif adalah kemampuan humor. Humor yang positif akan membangkitkan hormone positif,dan gairah dalam kehidupan. Dalam kenyataan, guru yang memiliki rasa humor yang baik akan membangkitkan minat belajar siswa. Guru disenangi siswa dan dengan demikian pembelajaran akan menarik.
Pengalaman di kelas membuktikan, guru yang secara akdemis pintar, menguasai materi sering kali mendapat penolakan dari siswa karena cara mengajar yang monoton, tidak antusias dan tidak memiliki rasa humor. Materi pelajaran yang kompleksitasnya rendah menjadi sangat sulit dicerna siswa karena secara psikologis siswa mengalami penolakan. Sebaliknya, guru yang mengajar di kelas dengan antusias, tidak merasa paling pintar dan rela mendengarkan cenderung diminati, terlebih lagi guru yang memiliki rasa humor. Humor dan lelucon yang dipakai guru kerap mampu menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk belajar. Siswa yang tadinya jenuh alias ‘bete’ menjadi segar kembali untuk mengikuti pembelajaran. Alhasil proses pembelajaran berlangsung menyenangkan dan menarik, tujuan pembelajaran pun tercapai. Inilah yang disebut pembelajaran yang efektif.
Antusiasme, seni mendengarkan dan rasa humor akan semakin berdaya pikat bagi siswa jika pembelajaran dilakukan dengan memakai media pembelajaran yang cocok. Penggunaaan sarana pembelajaran, kompetensi guru dan dukungan financial memang penting bagi efektivitas belajar. Namun semua itu tidak berdampak secara signifikan bagi efektifitas pembelajaran jika guru, sang disainer pembelajaran tidak memiliki antusiasme, rasa, seni mendengarkan dan rasa humor yang baik.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Manusia adalah makhluk pembelajar, ia secara kodrati berada dalam proses “menjadi”, dan keberadaanya secara substansial belum saelesai. Berdasarkan pandangan tentang manusia seperti ini maka derivatifnya adalah pengetahuan diperoleh manusia berdasarkan pada proses pembentukan yang dilakukan secara afktif dari setiap refleksi pengalaman. Pengetahuan tersebut diperoleh dalam pembalajaran yang dilakukan antara guru dan murid yang keduanya menajdi subjek pengetahuan. Guru bertindak sebagai fasilitator, bukan sebagai pihak yang mentransfer pegnetahuankepada siswa. Sebagai fasilitator, seorang guru harus memiliki antusiasme, seni mendengarkan dan rasa humor yang baik. Betapun canggihnya sarana pembelajaran yang dipakai, dan didukung oleh komptensi guru yang baik, jika guru tidak memiliki cara pandang yang benar terhadap manusai dan pengetahuan, guru akan jatuh pada praktek indoktrinasi, dab bertindak mekanistik dalam pembelajaran. Untuk menjadi guru yang efektif sehingga pembelajaran menjadi efektif, seorang guru tidak hanya dituntuk kualitas kompetensi yang baik, tetapi ia juga antusias, rela mendengarkan dan memiliki rasa humor yang baik. Dari pengalaman sehari-hari terbuktikan bahwa tiga unsure kepribadian guru, antusias, rela mendengarkan dan rasa humor telah berhasil membuat efektitivtas pembelajaran di kelas.
Dari kesimpulan di atas, kami menyarankan kepada para penyelnggara persekolahan, kepala sekolah dan guru bahwa dalam rangka efektivitas pembelajaran di kelas perlu diperhatikan tiga unsure penting kompetensi kebribadian berikut ini
Antusiame. Antusiasme adalah semangat yang terus menyala kendati situasi eksternal kurang mendukung. Antusiasme bagaikan roh yang menghidupi manusia dalam pembelajaran.
Seni mendengarkan. Seni mendengarkan merupakan kompetensi guru dalam rangka menghargai siswa dan menyadari bahwa pengetahuan bersifat komulatif, berkembang dan tidak akan pernah mencapai kebenaran mutlak. Melalui seni mendengarkan yang baik, guru akan bersikap rendah hati sekaligus kritis
Rasa humor. Sedikit orang memperhatikan pentingnya rasa humor dalam rangka efektivitaas pembelajaran di kelas. Dari pengalaman terbuktikan bahwa penguasaan materi oleh guru yang disampaikan secara monoton, akan menciptakan suasan belajar yang tidak menarik dan menyenangkan. Humor dan lelucon akan membangun suasana menarik, dan menyenangkan. Suasana demikian akan membantu siswa mempertahankan semangat belajar dan rasa ingin tahu.
Dengan ketiga hal tersebut, apalagi didukung sarana pembelajaran yang memadai dan kualitas guru yang baik, pembelajaran di kelas pun akan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
James L.Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Robert Konopaske., Organzatuons: Behavior, Structure, Processes, Phillippines, McGrow-Hill Irvin, 1973
James W. Walker, Human Strategy, New York, McGrow-Hill, 1992
-------------------------------------------------------------------------@ 2000-2006 effectiveness.co.uk
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/31/konstruktivisme-struktur-kognitif-sekilas-pandang
Tonny D. Widiastono (ed.), Pendidikan Manusia Indonesia,Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2004
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta 2007
[1] http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/31/konstruktivisme-struktur-kognitif-sekilas-pandang
[2] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana PrenadaMedia Group, Jakarta2007, hal. 49
[3] @ 2000-2006 effectiveness.co.uk
[4] James L.Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Robert Konopaske, Op. cit., p. 15
[5] James W. Walker, Human Strategy., p. 333
LANDASAN TEORETIS DAN PEMBAHASAN
Manusia adalah makhluk pembelajar (animal rasionalis). Sebagai makhluk pebelajar, manusia merupakan homo sapiens atau makhluk bijaksana,dimana kebijaksanaan hanya akan mungkin dicapai melalui belajar. Pembelajaran di kelas merupakan tahap yang dilalaui manusia dalam proses menuju kepada kebijaksanaan. Bagaimana proses pembelajaran di kelas dilakukan ditentukan oleh konsep dan cara pandang terhadap manusia. Cara pandang manusia ini bukan hanya berpengaruh pada model pembelajaran di kelas tetapi juga pada kebenaran pengetahuan, yang akan menentukan kepada pencapaian kebijaksanaan manusia (homo sapiens) Hal ini merupakan permasalahan mendasar di dunia pendidikan formal. Secara lebih sederhana dapat dirumuskan bahwa pembelajaran yang efektif akan menentukan pencapaian kebenaran pengetahuan, yang menghantar manusia pada kebijaksanaan. Berikut ini secara berturut-turut akan dibahas sekilas landasan teoritis dan pembahasan.
A. Landasan Teoretis
1. Manusia Pembelajar
“Siapakah Manusia?” Jawaban atas pertanyaan siapakah manusia menjadi dasar konsep dan cara pandang manusia (penyelenggara, guru atau siswa) terhadap manusia dalam pembelajaran di kelas. Konsep tentang manusia bukan hanya menentukan praksis pembelajaran, tetapi memengaruhi bagaimana pengetahuan itu dicapai siswa. Menurut M Sastrapratedja (2004:4) manusia selalu dalam proses “menjadi” Ia tidak hanya being, tetapi becoming, suatu gerak, proses, transisi, yang tidak selesai. Kemanusiaan yang dicapai sampai tahap ini belum merupakan kemanusiaan yang sudah selesai atau definitive. Kondrat kemanusiaan seperti ini dinyatakan oleh Max Scheler, Adolf Portmann, dan Helmuth Plesssner sebagai “keterbukaan terhadap dunia”. Keberadaan atau eksistensinya adalah makhluk yang terus belajar, dan ketika ia tidak mau belajar, ia telah kehilangan eksistensinya. Pandangan ini menegaskan kepada kita bahwa eksistensi manusia adalah makhluk pembelajar. Ia sadar hanya dengan belajar dan terus belajar, ia akan sampai kepada kebijaksanaan (homo sapiens). Kesadaran diri sebagai makhluk pembelajar sekaligus menyadarkan akan keberadaan dirinya bersama dengan orang lain (exsist with) karena belajar selalu terkait dengan yang lain (others) Apakah konsekuensi pandangan ini terhadap pengetahuan dan pembelajaran di kelas?
2. Pengetahuan dan Pembelajaran
Pandangan yang dinamis terhadap manusia dimana eksistensi manusia selalu dalam proses “menjadi’ (becoming), yang memiliki keterbukaan terhadap dunianya membawa konksekuensi terhadap konsepsi pengetahuan. Pengetahuan bukan sekumpulan teori yang ‘mandeg’ hasil dari pemikiran seseorang yang diwariskan dari generasi kepada generasi. Kebenaran pengetahuan bersifat komulatif, artinya kebenarannya merupakan hasil refleksi yang terus berkembang. Pengetahuan yang ada merupakan hasil penyempurnaan dari pengetahuan sebelumnya. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang pada akhirnya mengklaim sebagai penemu pengetahuan.
Pengetahuan merupakan proses pembentukan yang dilakukan manusia yang berada pada proses menjadi. Pengetahuan bukan sekadar jawaban atas pertanyaan ‘what’ tetapi juga ‘how to’. Pada sisi ini pengetahuan sebagaimana pandangan konstruktivisme sangat cocok dengan pandangan terhadap manusia yang menuju pada proses menjadi (becoming). Pengetahuan yang dibentuk bersama siswa adalah pengetahuan yang membebaskan, artinya pengetahuan itu disusun dari refleksi bersama siswa, sesuai dengan konteks siswa dimana siswa mengetahui bagaimana pengetahuan ini dibentuk dan kebermanfaatanya. Setiap pengetahuan tidak berdiri sendiri dan bebas nilai. Pengetahuan selalu berciri social dan kontekstual. “setiap orang yang belajar sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri. Jadi siswanya dapat aktif dan terus meningkatkan diri dalam kondisi tertentu”[1]
Di Sekolah formal pembelajaran merupakan kegiatan inti dalam rangka pembentukan pengetahuan. Menurut Wina Sanjaya pembelajaran merupakan system kegiatan yang bertujuan, membelajarkan siswa[2]. Berdasarkan pendapat tersebut, tujuan pembelajaran adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain memotivasi siswa belajar. Ketika pembelajaran di kelas mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar mandiri maka pembelajaran dapat dikatakan berhasil. Sebagai sebuah system kegiatan, pembelajaran dirancang melalui perencanaan yang matang, dan dilaksanakan menurut urutan sesuai dengan disain pebelajaran. Di sini system kegiatan dilaksanakan dengan dukungan sarana atau media belajar yang memadai sehingga tujuannya tercapai, yakni membelajarkan siswa.
3. Efektivitas
Efektivitas dapat didefinisikan sebagai “kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengerjakan sesuatu yang memberi kontribusi kepada organisasi. Penekanan efektifitas terletak pada mengerjakan hal-hal yang benar dan tidak semata-mata mengerjakan hal-hal dengan benar” (the ability to identify and do the things that contribute to the organisation. The emphasis of effectiveness is on ‘doing right things’ and solely ‘doing things right)”[3]. Istilah efektivitas (effectiveness) diturunkan dari istilah efffect yang digunakan dalam konteks relasi cause-and-effect (sebab-akibat)[4]
James L. Gibson, dkk menunjukkan tiga perspektif efektivitas, yaitu efektivitas individu, efektivitas kelompok dan efektivitas organisasi. Efektivitas dikaitkan dengan hasil (performance).
James W. Walker mengartikan efektivitas terkait dengan hasil (results) yang dicapai dari strategi sumber daya manusia. Tujuan-tujuan yang dicapai merupakan efek dari aktivitas sumber daya manusia.{“Effectiveness is defined as the extent to which the human resource function supports the successful implementation of ideas and long-term busness plans and strategies. It relates results achieved to human resource issues and strategies (i.e., the effect of human resource activities on the achievement of business objectives)}.[5]
B. Pembahasan
Berdasarkan pendapat para tokoh di atas, pembelajaran yang efektive merupakan konsekuensi dari pandangan terhadap manusia. Berdasarkan padangan tentang manusia yang sedang dalam proses menjadi, guru akan memposisikan dirinya dan siswa sebagai pribadi yang belum selesai, artinya keduanya terus belajar dan saling mengajar. Pandangan seperti ini akan mendorong guru, dan guru akan mendorong siswa untuk antusias, belajar, dan oleh karena itu mau mendengarkan. Sebuah sikap rendah hati, sekaligus kritis seorang manusia pembelajar. Model pembelajaran yang dilaksanakan di kelas pun akan menjadi menarik karena guru tidak memposisikan siswa sebagai objek yang harus diisi, dan guru sebagai subjek yang harus mengisi. Guru akan memposisikan siswa sebagai subjek dan oleh kerena itu relasi guru menjadi relasi horizontal, bukan vertical. Guru akan menjadi guru yang siswa dan siswa juga akan diposisikan sebagai siswa yang guru. Guru tidak akan bediri di depan sebagai pihak yang paling tahu. Ia akan terbuka terhadap kritik dan masukan siswa, karena ia sadar bahwa pembelajaran adalah proses menjadi manusia yang berkembang menuju kepada keutuhan.
Berdasarkan pengamatan hasil belajar siswa, dan wawancara di kelas, efektivitas belajar disebabkan oleh kompetensi kepribadian guru. Kompetensi kepribadian yang dimaksud secara khusus menyangkut tiga hal, yaitu antusiasme, seni mendengarkan dan rasa humor.
Antusiasme adalah semangat yang tinggi seperti apa yang disampaikan Nelson Mandela: “Saya mengalami sendiri bahwa kita mampu menanggung hal-hal yang sebenarnya tak tertanggungkan jika kita dapat menjaga semangat hidup tetap tinggi meski tubuh kita disiksa. Keyakinan yang kuat adalah rahasia kesanggupan menanggung segala kekurangan. Semangatmu bisa penuh meskipun perutmu kosong”.
Guru-kendati pintar dan menguasai materi dengan baik-jika ia tidak antusias, tidak memiliki emosi positif maka siswa tidak akan bersemangat memperhatikan pembelajaran di kelas. Antusiasme guru ibarat suntikan darah segar bagi pasien yang sedang sakit. Antusiasme guru akan menular dan tertransfer kepada siswa sehingga siswa juga antusias dalam belajar.
Selain antusiasme, kemampuan mendengarkan merupakan kompetensi yang penting untuk membangun pembelajaran yahng efektif. Seni mendengarkan yang baik akan membangun rasa penghargaan dalam diri siswa. Siswa yang merasa dihargai akan menghargai guru dalam proses pmebelajaran. Banyak siswa gagal dalam pembelajaran karena guru tidak mampu menghargai siswa. Siswa yang merasa dihargai akan cenderung berperilaku desruktif di dalam kelas. Mendengarkan keluhan atau kritikan dan masukan siswa merupakan bentuk konkret penghargaan guru kepada siswa. Semua orang senang didengarkan. Dan adalah penghargaan bila didengarkan. Dengarkan siswa dengan baik, niscaya mereka akan senang mengikuti pembelajaran.
Hal lain yang tidak kalah penting dalam rangka pembelajaran yang efektif adalah kemampuan humor. Humor yang positif akan membangkitkan hormone positif,dan gairah dalam kehidupan. Dalam kenyataan, guru yang memiliki rasa humor yang baik akan membangkitkan minat belajar siswa. Guru disenangi siswa dan dengan demikian pembelajaran akan menarik.
Pengalaman di kelas membuktikan, guru yang secara akdemis pintar, menguasai materi sering kali mendapat penolakan dari siswa karena cara mengajar yang monoton, tidak antusias dan tidak memiliki rasa humor. Materi pelajaran yang kompleksitasnya rendah menjadi sangat sulit dicerna siswa karena secara psikologis siswa mengalami penolakan. Sebaliknya, guru yang mengajar di kelas dengan antusias, tidak merasa paling pintar dan rela mendengarkan cenderung diminati, terlebih lagi guru yang memiliki rasa humor. Humor dan lelucon yang dipakai guru kerap mampu menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk belajar. Siswa yang tadinya jenuh alias ‘bete’ menjadi segar kembali untuk mengikuti pembelajaran. Alhasil proses pembelajaran berlangsung menyenangkan dan menarik, tujuan pembelajaran pun tercapai. Inilah yang disebut pembelajaran yang efektif.
Antusiasme, seni mendengarkan dan rasa humor akan semakin berdaya pikat bagi siswa jika pembelajaran dilakukan dengan memakai media pembelajaran yang cocok. Penggunaaan sarana pembelajaran, kompetensi guru dan dukungan financial memang penting bagi efektivitas belajar. Namun semua itu tidak berdampak secara signifikan bagi efektifitas pembelajaran jika guru, sang disainer pembelajaran tidak memiliki antusiasme, rasa, seni mendengarkan dan rasa humor yang baik.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Manusia adalah makhluk pembelajar, ia secara kodrati berada dalam proses “menjadi”, dan keberadaanya secara substansial belum saelesai. Berdasarkan pandangan tentang manusia seperti ini maka derivatifnya adalah pengetahuan diperoleh manusia berdasarkan pada proses pembentukan yang dilakukan secara afktif dari setiap refleksi pengalaman. Pengetahuan tersebut diperoleh dalam pembalajaran yang dilakukan antara guru dan murid yang keduanya menajdi subjek pengetahuan. Guru bertindak sebagai fasilitator, bukan sebagai pihak yang mentransfer pegnetahuankepada siswa. Sebagai fasilitator, seorang guru harus memiliki antusiasme, seni mendengarkan dan rasa humor yang baik. Betapun canggihnya sarana pembelajaran yang dipakai, dan didukung oleh komptensi guru yang baik, jika guru tidak memiliki cara pandang yang benar terhadap manusai dan pengetahuan, guru akan jatuh pada praktek indoktrinasi, dab bertindak mekanistik dalam pembelajaran. Untuk menjadi guru yang efektif sehingga pembelajaran menjadi efektif, seorang guru tidak hanya dituntuk kualitas kompetensi yang baik, tetapi ia juga antusias, rela mendengarkan dan memiliki rasa humor yang baik. Dari pengalaman sehari-hari terbuktikan bahwa tiga unsure kepribadian guru, antusias, rela mendengarkan dan rasa humor telah berhasil membuat efektitivtas pembelajaran di kelas.
Dari kesimpulan di atas, kami menyarankan kepada para penyelnggara persekolahan, kepala sekolah dan guru bahwa dalam rangka efektivitas pembelajaran di kelas perlu diperhatikan tiga unsure penting kompetensi kebribadian berikut ini
Antusiame. Antusiasme adalah semangat yang terus menyala kendati situasi eksternal kurang mendukung. Antusiasme bagaikan roh yang menghidupi manusia dalam pembelajaran.
Seni mendengarkan. Seni mendengarkan merupakan kompetensi guru dalam rangka menghargai siswa dan menyadari bahwa pengetahuan bersifat komulatif, berkembang dan tidak akan pernah mencapai kebenaran mutlak. Melalui seni mendengarkan yang baik, guru akan bersikap rendah hati sekaligus kritis
Rasa humor. Sedikit orang memperhatikan pentingnya rasa humor dalam rangka efektivitaas pembelajaran di kelas. Dari pengalaman terbuktikan bahwa penguasaan materi oleh guru yang disampaikan secara monoton, akan menciptakan suasan belajar yang tidak menarik dan menyenangkan. Humor dan lelucon akan membangun suasana menarik, dan menyenangkan. Suasana demikian akan membantu siswa mempertahankan semangat belajar dan rasa ingin tahu.
Dengan ketiga hal tersebut, apalagi didukung sarana pembelajaran yang memadai dan kualitas guru yang baik, pembelajaran di kelas pun akan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
James L.Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Robert Konopaske., Organzatuons: Behavior, Structure, Processes, Phillippines, McGrow-Hill Irvin, 1973
James W. Walker, Human Strategy, New York, McGrow-Hill, 1992
-------------------------------------------------------------------------@ 2000-2006 effectiveness.co.uk
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/31/konstruktivisme-struktur-kognitif-sekilas-pandang
Tonny D. Widiastono (ed.), Pendidikan Manusia Indonesia,Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2004
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta 2007
[1] http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/31/konstruktivisme-struktur-kognitif-sekilas-pandang
[2] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana PrenadaMedia Group, Jakarta2007, hal. 49
[3] @ 2000-2006 effectiveness.co.uk
[4] James L.Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Robert Konopaske, Op. cit., p. 15
[5] James W. Walker, Human Strategy., p. 333
MERANCANG KURIKULUM YANG UNGGUL DALAM INTELEKTUAL DAN ANGGUN DALAM MORAL
LATAR BELAKANG
Pendidikan sampai kapanpun akan terus menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan umat manusia karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar. Melalui pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan manusia mampu mentransformasi diri sampai pada tingkat derajat yang paling mulia dan luhur sebagai ciptaan Tuhan. Inilah panggilan setiap organisasi pendidikan (berikutnya dibaca ‘sekolah’). Akan tetapi di era globalisasi tidak jarang proses transformasi melalui pendidikan formal-sekolah-seperti sekarang ini tidak berjalan sesuai dengan fitrahnya. Permasalahan yang dihadapai sekolah tidak lepas dari tarik menarik tiga poros kekuatan yang mengelola ruang publik, yakni Negara, Masyarakat Pasar, dan Masyarakat Warga (Nota Pastoral KWI 2004). Tiga poros kekuatan tersebut berinteraksi dalam wadah budaya postmodern, yang lebih besar dampak negatifnya bagi negara berkembang; yaitu alienasi, zapping dan sekularisme. Masyarakat kita cenderung dikendalikan pengaruh negatif globalisasi, konsumerisme, hedonisme, materialisme, dan cenderung pada kekerasan.
Persekolahan XX secara konteks sosial budaya berada dalam ketenganan budaya postmodern. Satu pemikiran yang mendesak adalah mengembangkan pendidikan berdasarkan kurikulum yang menyeimbangkan ketiga poros kekuatan yang mengelola ruang publik, dan nilai-nilai kristiani dengan semangat injili. Hal ini sangat penting mengingat keberadaan/kehadiran persekolahan XX sejak awal menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang secara sosial terpinggirkan. Spiritualitas dan semangat santo Pelindung menjadi semangat yang mendasari setiap langkah penyempurnaan kurikulum yang berciri khas Santo Pelindung.
Beberapa fenomena berikut menjadi dorongan yang semakin mendesak untuk membangun pendidikan yang berkualitas, moral dan intelektual.
Munculnya sekolah-sekolah ‘elite’ yang mengkhususkan diri untuk kaum elite
Semakin banyak sekolah tereliminasi karena tidak berdaya dalam persaingan.
Maraknya sekolah-sekolah standar nasional (SSN), atau sekolah nasional plus atau sekolah internasional sekadar sebagai alat promosi
Kekerasan baik verbal maupun non-verbal (bullying). Kekerasan ini bukan hanya terjadi pada siswa tetapi juga pada guru oleh sistem sosial/struktur yang tidak adil.
Untuk itu dibutuhkan daya kreatif setiap insan pendidik di persekolahan ini untuk dapat membangun persekolahan yang berkualitas baik dalam intelektual maupun dalam moral sebagaimana motto fides, mores et intellectus. Diskusi yang kreatif dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran (stakes holders) akan semakin menyempurnakan usaha kita bersama dalam rangka menjadi (becoming) persekolahan Katolik yang unggul dan profesional.
ARAH DAN PARADIGMA PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN
Arah dan paradigm persekolahan XX dibangun berdasarkan arah dan paradigm sekolah Katolik sebagaimana dijabarkan dalam dokumen Gereja tentang sekolah Katolik dan konteks pembangunan sosial ekonomi Jakarta. Konsili Vatikan II menerbitkan deklarasi tentang pendidikan Kristiani, Gravissimum Educationis (GE). Dokumen ini menegaskan bahwa kekhasan sekolah Katolik terletak pada dimensi religiusnya. Dimensi tersebut dapat dirasakan pada iklim pendidikan, dalam perkembangan pribadi tiap siswa, pada relasi kebudayaan dan Injil, serta pada pengetahuan yang mendapatkan terang iman. Sekolah merupakan agen kultural Gereja, diserahi tugas dan wewenang untuk menularkan iman, tradisi, dan visi Katolik kepada generasi berikutnya. Persekolahan Santo Pelindung dipanggil untuk memfokuskan pada pendidikan karakter para siswanya karena menyadari bahwa kecendrungan manusia sekarang adalah menggunakan kepandaiann yang dimiliki untuk menumpuk kekayaan diri sendiri, dan mengabaikan nilain-nilai kehidupan
Pentingnya kesadaran moral dan keagamaan di sekolah. Melalui kesaksian hidup orang-orang yang mengajar dan membimbing peserta didik maupun melalui karya kerasulan sesama murid. Sekolah sebagai Komunitas.
Dokumen Awam Katolik di Sekolah: Saksi-saksi Iman, bicara tentang peranan awam katolik di sekolah katolik, yaitu “Pengembangan intelektual siswa; Tugas guru lebih dari sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), pembentukan manusia secara utuh, dan itu merupakan tugas kenabian.....mereka perlu dipersiapkan, dibekali....pembinaan agama, moral;Hubungan dengan siswa, guru melaksanakan tugas kependidikan yang dialogis, positif, transparan dan kontruktif; Kekhasan sekolah katolik adalah relasi guru siswa yang dialogis”. Dokumen Dimensi Religius Pendidikan di Sekolah Katolik: Pedoman untuk Refleksi dan Pembaharuan menggarisbawahi tujuan khusus sekolah Katolik dan keprihatinan Gereja terhadap kaum muda. Tujuan khusus sekolah Katolik: membantu tiap-tiap siswa, yang berpotensi menjadi “ciptaan baru” secara nyata dan menyiapkan mereka menjadi anggota masyarakat dewasa yang bertanggung jawab. Keprihatinan Gereja berdasarkan hasil riset terhadap kaum muda yang teralienasi dari dunianya, juga menjadi keprihatinan kita jaman sekarang ini.
Berdasarkan arah dan paradigm Gereja terhadap sekolah Katolik, persekolahan Santo Pelindung sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mengembangkan misi Gereja mewartakan Kristus mendasarkan arah dan paradigmanya pada ajaran Gereja. Arah dan paradigm sekolah XX dikemas dalam visi: “Menjadi Sekolah/Yayasan Katolik Yang Unggul dan Profesional”.
Visi tersebut yang akan mengarahkan semua aktivitas pembelajaran di persekolahan Santo Pelindung. Semua aktivitas dalam praksis pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung ditempatkan dalam kerangka mewujudkan misi “Menumbuhkan dan mengembangkan mutu SDM, Manajemen, Spritualitas dan Nasionalisme”. Misi tersebut dicapai melalui pengembangan kurikulum yang didasarkan pada nilai Fides, Mores, et Intellectus dan disemangati oleh budaya spiritualitas Hati dalam diri Santo Pelindung.
Disinilah terletak kekhasan pesekolahan Santo Pelindung yang sekaligus menjadi pembeda dengan sekolah Katolik lainnya. Keunikan persekolahan Santo Pelindung terletak pada nilai yang dihidupi dan budaya/spiritualitas yang menyemangati semua subjek yang terlibat dalam praksis pendidikan. Secara lebih operasioanal akan dibahas dalam KTSP Persekolahan Santo Pelindung. Kiranya bukanya tanpa sengaja nilai-nilai yang dihidupi memiliki urutan fides, mores et intellectus bukan intellectus, mores et fides. Motto yang syarat dengan nilai yang mengungkapkan penghayatan iman Gereja yang sangat tinggi. Hal ini sejalan dengan teologi Gereja Katolik di mana pengetahuan diuntutun iman, -bukan sebaliknya-demikian juga moral. Moral merupakan refleksi bentukan iman manusia yang melibatkan fungsi rasio/intelektus. Fides quaerens intellectum, yang artinya iman menuntun pada pengetahuan. Santo Agustinus mengatakan “saya percaya supaya saya mengerti” Iman dahulu baru kemudian pengertian, karena pegertian yang didahuluui oleh iman akan menuntun manusia pada moral yang baik. Tidak sebaliknya, dimana ketika manusia berpengatahuan, per se ia akan beriman dan bermoral. Refleksi empat pilar pendidikan UNESCO leaning to Know, learning to Do, learning to Live Together dan leraning to Be merupakan kesatuan usaha mengembangkan manusia secara utuh. Pengalaman bangsa ini mambuktikan bahwa tidak sedikit para pejabat yang secara intelektual sangat bagus, telah menggunakan untuk mengelabui orang lain. Perilaku demikian yang dikecam Yesus (bdk. Mat 23:1-30) Dengan motto fides, mores et intellectus, para pendiri persekolahan XX memaksudkan agar iman menjadi dasar pembentukan moral dan pengetahuan para siswa, guru/karyawan, pelaksana dan pengelola sekolah(bdk. Mat 25:22; Rom 9:33; II Kor 5:7) Dalam rangka menghidupi nilai-nilai tersebut, spiritualitas Hati dalam diri Santo Pelindung menjadi motivasi intrinsic sekaligus model disiplin diri seluruh subjek yang terlibat di dalamnya. Sesuai dengan konteks sekolah dan semangat pengembangan KTSP, prioritas budaya yang dikembangkan adalah budaya penghargaan. Secara lebih operasional akan dijabarkan pada bagian KTSP Persekolahan XX.
KTSP PERSEKOLAHAN SANTO PELINDUNG
Perubahan kurikulum nasional telah mengalami pergantian beberapa kali. Bahkan terdapat sitiran yang cenderung negative ‘ganti menteri, ganti kurikulum’. Kurikulum sekarang ini yang sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga disebut Kurikulum Standar Isi, karena pemerintah menetapkan standar isi kurikulum. Disebut sebagai KTSP karena tiap satuan pendidikan diberi kesempatan memodifikasi kurikulum nasional, dalam arti pengadakan pengembangan, sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
Banyak peluang yang ditawarkan oleh pemerintah dengan kehadiran KTSP, kendati tidak sedikit pihak yang pesimistis dan cenderung apriori terhadap kurikulum ini. Pendapat ini disebabkan karena kualitas guru yang tidak merata, terutama kualitas guru di daerah. Selain guru sudah terbiasa menduplikat kurikulum yang telah disediakan pemerintah, bahkan untuk urusan administrasi pengajaran guru tidak terbiasa menyusun secara mandiri, dan dengan demikian tidak dapat dipungkiri bila KTSP dinilai terlalu membebani guru dengan administrasi. Sisi lain yang ditolak karena KTSP menekankan pada proses sedangkan kriteria kelulusan ditentukan oleh pemerintah melalui standar nilai ujian nasional untuk beberapa bidang studi.
Peluang yang ditawarkan KTSP adalah desentralisi pendidikan dengan semangat otonomi daerah dimana pemerintah memberikan keluasaan kepada satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik daerah. Ini sangat cocok dengan semangat PP No. 22 Tahun 1999 dan PP No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah dan tentang Pembagian Wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Satuan pendidikan menyususun kurikulum berdasarkan analisis kebutuhan daerah. Kurikulum seperti ini akan melestarikan budaya daerah dan mengembangkan kekayaan daerah masing-masing. Disini dibutuhkan kreativitas guru untuk menyusun KTSP. Dalam kerangka ini kehadiran KTSP dapat dilihat sebagai terobosan dan peluang bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan karakteristik daerah dan spiritualiatas pendiri.
Perlu disadari bahwa pengembangan ini hanya mungkin terjadi jika memandang kurikulum sebagai sarana dan bukan tujuan pendidikan. Kurikulum sebagai perangkat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan visi misi setiap satuan pendidikan. Pengembangan kurikulum dapat diletakkan ke dalam tiga area kurikulum.
Area Penguasaaan adalah wilayah dasar dan terstruktur yang harus dikuasai oleh semua siswa, sebagaimana standar minimal ketentuan pemerintah, yang ditetapkan oleh BSNP. Melalui SKL yang ditetapkan pemerintah, setiap satuan pendidikan diwajibkan menguasainya. Normative sebagai alat ukur adalah SKM yang harus dicapai setiap siswa agar dapat dinyatakan lulus/berhasil. Disni unsure ketiga dari motto sekolah, yakni intellectus dapat dikembangkan melalui pengembangan silabus dan RPP dan penetapan SKM yang lebih tinggi dibandingkan ketentuan pemerintah. Inilah yang disebut pengembangan kurikulum (curriculum development) Area kedua adalah area organic, yaitu dasar dan tidak terstruktur. Area ini merupakan pengembangan nilai dan pembentukan karakter yang dilakukan di sekolah. Penanaman nilai dan pembentukan karakter tidak dapat diukur seperti area penguasaan. Namun area organic ini dapat diamati melalui indikator sikap. Termasuk kedalam area organic adalah berbagai macam pembiasaan yang dikembangkan di sekolah, seperti kedisiplinan, kejujuran, ketertiban, kebersihan, kerapihan. Area ini merupakan nilai-nilai yang akan dihidupi yang mendasari setiap subjek pendidikan di persekolahan Santo Pelindung. Dua unsur dalam motto, yakni fides et mores menjadi dasar praksis pendidikan. Berbagai kegiatan dirancang dalam rangka penanaman nilai-nilai injili, penghayatan dan pengembangan demi pembentukan moral kristiani. Di sini setiap kepala sekolah merancang kegiatan-kegiatan pengembangan kesiswaan (student development) demi terwujudnya pembelajaran yang berciri kristiani. Sudah sejak lama nilai-nilai dan pengembangan karakter menjadi trademark sekolah katolik. Nilai-nilai tersebut sekarang menjadi kerinduan masyarakat. Area ketiga adalah pengayaan. Yang dimaksud area pengayaan adalah nilai tambah (added values)yang ditawarkan oleh satuan pendidikan, dan tentu saja ini sebagai nilai lebih. Nilai tambah ini biasanya mengakomodasi tuntutan perubahan jaman atau permintaan orang tua murid sebagai salah satu stakeholder. Termasuk area ketiga ini adalah kecakapan hidup (life skills) Program kegiatan area ketiga ini dapat berupa program bahasa mandarin, dan atau native speaker atau kecakapan hidup lainnya. Program pengayaan ini harus disusun sebaik mungkin dengan ukuran yang jelas, bukan sekadar sebagai alat promosi. Untuk itu program unggulan bidang studi yang pernah disebutkan oleh pengurus yayasan, sebaiknya dikaji ulang menyangkut target, sumber daya dan sumber dana.
Spiritualitas Hati dalam diri XX dihayati dan dihidupi sebagai dasar seluruh aktivitas subjek pelaksana di persekolahan XX. Spiritualias tersebut dihayati dalam bentuk yang lebih konkret pada budaya (nilai) Penghargaan. Budaya Penghargaan menjadi way of life semua subjek yang terlibat di Persekolahan XX. Nilai ini sangat penting dan akan menjadi pembeda sekaligus kekhasan persekolahan XX selain pengembangan area pengayaan dan area penguasaan. Penghargaan juga merupakan spiritualitas Santo Pelindung, yang mempresentasikan semangat menghantar manusia kepada pencerahan, dimana digambarkan dengan cara menyeberangkan anak dari tepi sungai ke seberang sungai. Jika budaya ini (penghargaan) dihidupi secara maksimal oleh semua subjek dan setiap aktivitas niscaya perkembangan luar biasa akan terjadi di persekolahan XX. Karena berawal dari penghargaan inilah, pertumbuhan dan perkebangan akan maksimal, orang akan melakukan apa saja untuk kebaikan bersama. Orang yang dihargai akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi.[2]
Dasar biblis dari spiritualitas Hati adalah labung Yesus yang tertikam di salib (Bdk Yoh 19:34) Yesus mengorbankan hidup-Nya dan terus memberi kehidupan lewat ekaristi karena penghargaan yang tinggi terhadap martabat manusia. Penghargaan Allah terhadap martabat manusia (I Kor 3:16) Dan ini sangat cocok dengan yang ditegaskan Henri Nouwen yakni, dua pilar rohani yang menjadi tindakan konkret penghargaan yaitu pengakuan dan pengampunan.[3] Budaya penghargaan dengan dua pilar rohani terkait langsung dengan sikap hidup atau mentalitas orang dalam kehidupan konkret.
Indicator sikap yang dapat diamati sebagai hasil dari penghayatan semangat/budaya penghargaan adalah setiap subjek/pelaku selalu berpikir positif (positive thinking) baik terhadap orang lain maupun terhadap setiap peristiwa/pengampun bukan dendam, peneguhan dan bukan penghakiman; berusaha selalu membantu untuk perkembangan dan kemajuan orang lain; relasi sosial dibangun dialogis dan humanis, rela dan mau belajar tentang apa saja kepada siapa saja (teacheable); peduli (care) atau cepat tanggap pada orang lain; dengan disposisi hati menghargai setiap subjek akan mengerjakan tugasnya dengan ‘hati’ karena ia menyadari diri dalam hubungannya dengan orang lain demi perkembangan diri dan orang lain secara maksimal.
TANTANGAN DAN HARAPAN
Terpusatnya salah satu kekuatan dari tiga poros kekuatan yang mengelola ruang publik. Ketika salah satu dari tiga poros kekuatan yang mengelola ruang publik mendominasi kekuatan lain, akan memunculkan ketidak seimbangan. Dalam konteks pendidikan nasional, ketika Negara mendominasi dunia pendidikan, akan memunculkan sentralisasi yang berakibat pada indoktrinasi, dan proses pendidikan yang melanggenggkan status quo. Ketika Masyarakat Pasar menguasai kekuatan yang lain, akan memunculkan pendidikan yang kapitalistik, di mana pendidikan menjadi sumber daya ekonomi yang dikuasai oleh sekelompok pemilik kapital. Pendidikan semakin mahal. Demikian juga, ketika Masyarakat Warga mendominasi kekuatan lain, pendidikan akan bergerak menurut keinginan dan kehendak masyarakat yang cenderung tidak memiliki basis struktur. Hal ini akan berakibat pada hilangnya arah pendidikan. Tantatangan terbesar sekolah XX adalah menempatkan diri pada posisi yang seimbang diantara tiga opros kekuatan tersebut.
Tenaga Pendidik/Guru. ”Dari berbagai survey yang pernah dilakukan oleh Sheldon Shaeffer ketidakmampuan dan keengganan para pekerja kurikulum merupakan cerminan dari sikap apatisme dan konformisme masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, sebagian besar para pekerja kurikulum ini merupakan produk sistem pembelajaran yang memperlakukan siswa sebagai obyek didik yang seolah-olah dapat dibentuk sekehendak pendidik dan dianggap mempunyai kemampuan yang sama dan secara lebih luas mereka juga merupakan bagian dari masyarakat yang sudah terlanjur konformis sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mengubah paradigma dan melakukan transformasi pembelajaran sesuai dengan gagasan-gagasan dalam suatu inovasi kurikulum. Banyak survey dan penelitian menunjukkan kebanyakan guru tidak bisa atau paling tidak sulit sekali melepaskan diri dari model pembelajaran yang pernah mereka sendiri terima dari guru mereka dulu.[4] Tantangannya adalah pengembangan pembelajaran di kelas, dimana guru mengembangkan metode secara kreatif dan inovatif/transformasi pembelajaran.
Selain itu, tantangan lainya adalah paradigma yang memandang guru sebagai ”sumber daya” seperti sumber daya lainnya, seperti sumber daya alam yang siap diekspolitasi. Merupakan tantangan mengembangkan paradigma penghargaan baik guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, siswa terhadap siswa, maupun pengelola terhadap guru dan orang tua siswa. Dalam rangka pengembangan ini tantangan yang harus dihadapi adalah penyusunan kurikum yang khas XX dengan modul pendukung.
Tantangan yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan moral. Pengembangan moral dalam tatanan sosial masyarakat menurut Francis Fukuyama terkait dengan kesepakatan berlakunya norma-norma sosial. Dalam konteks persekolahan XX pengembangan moral siswa dan guru akan menghadapi tantangan yang besar jika peraturan dan pedoman kerja belum terbentuk. Tanpa adanya norma dan aturan tidak mungkin terbangun moral yang baik, tanpa moral yang baik tidak mungkin sebuah institusi memiliki modal sosial yang bagus, dan tanpa modal sosial yang bagus sebuah organisasi tinggal menunggu waktu untuk sampai pada kematian. Karena tidak adanya modal sosial, berarti tiadanya kepercayaan (trust) masyarakat. Itulah goncangan besar sebuah organisasi (Francis Fukuyama).
DAFTAR PUSTAKA
Anita Lie, Merancang Kurikulum Sekolah Katolik, (makalah), Semarang: 2008
C. Kuntoro, SJ, Sekolah Katolik: Bersaing Karena Berbagi, (Makalah), Semarang, 2008
Dokumen Pasca Konsili Vatikan II, Gravissimum Eucationis (Deklarasi Tentang Pendidikan Kristen), Jakarta: Komdik KWI 2008
-----------------------, Awam Katolik di Sekolah: saksi-saksi Iman, Jakarta: Komdik KWI, 2008
-----------------------, Dimensi Religius Pedidikan di Sekolah Katolik: Pedoman Untuk Refleksi dan Pembaharuan, Jakarta: Komdik KWI, 2008
Francis Fukuyama, The Great Disruption (Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru). Diterje. Masri Maris, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka, 2005
Henri Nouwen, Peace Work (Mengakarkan Budaya Damai), diterje. C.B. Muryanto, Yogyakarta: Kanisius, 2007
----------, The Road to Peace, (Karya Untuk Perdamaian dan Keadilan), diterje. FA. Soeprapto, Yogyakarta: Kanisius, 2004
James W. Walker, Human Resources Strategy, Boston: McGraw-Hill, 1992
J. Soedjati Djiwandono, Globalisasi dan Pendidikan Nilai, dalam “Menggagas Paradigma Baru Pendidikan”, Yogyakarta: Kanisius, 2000
Konferensi Wali Gereja Indonesia, Nota Pastoral KWI 2004, Jakarta: KWI, 2004
Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007
Tonny D. Widiastono (ed.), Pendidikan Manusia Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006
[1] Dipresentasikan pada diskusi panel dalam rangka Hari Guru Nasional 2009 di depan para guru, pengawas paket , pengurus yayasan, dan komite sekolah tingkat TK-SMA
[2] James W. Walker, Human Resource Strategy, Boston: McGraw-Hill, 1992, hlm.79
[3] Henri Nouwen, “Peace work” (Mengakarkan Budaya damai) diterj. Oleh C.B.Mlyatno, Pr, Kanisius, Yogkakarta, 2007, hal.141
[4] Dikutip dari makalah Prof. Dr. Anita Lie “Merancang Kurikulum Persekolahan Katolik”, Seminar dan Workshop MNPK, Semarang 29-31 Oktober 2008. Evy Ridwan, Willy Renandya dan Anita Lie. “Reflective Teaching: A Survey of EFL Teachers in Indonesia.” Phi Delta Kappan, 76,8: 591-695; Stephens, D. dan K.M Reimer. (1995
Kamis, 02 April 2009
KISAH HIDUP SANTO KRISTOFORUS
Seperti tokoh lain, kisah Santo Kristoforus merupakan hasil refleksi iman yang berdasarkan realitas konkret. Sebagai refleksi iman, kisah ini tidak sepenuhnya berdasarkan fakta historis. Kisah ini dimunculkan untuk memperkaya iman umat akan Yesus Kristus, dan semakin mendekatkan banyak orang kepada Yesus.
Secara historis tokoh ini benar adanya, kendati tidak seluruhnya. Ia dibesarkan di Kanaan, Palestina, yang meiliki kerawakan besar dan tinggi. Nama aslinya bukanlah Kristoforus. Nama kristoforus diambil atau disebutkan bagi dirinya setelah ia mengalami pertobatan, menjadi pengikut Kristus. Kisah pergantian nama ini persis dengan pengalaman Saulus berganti nama menjadi Paulus (Kis 9:1-18)
Sebagai orang muda, Kristoforus hanya mau menjadi pengikut orang yang paling kuat. Makhlumlah pada waktu itu, kekuatan fisik menjadi ukuran bagi kesuksesan seseorang karena yang kuat, yang berkuasa. Kristoforus m uda menyaksikan kelompok yang berkuasa adalah kelompok tentara. Mereka adalah yang paling kuat diantara masyarakatnya. Namun Kristoforus heran bahwa para tentara masih tunduk kepada dewa atau kuasa setan. Dalam benak Kristoforus, setanlah yang paling kuat. Ia memutuskan mengabdi kepada setan, kuasa kegelapan.
Beredar kisah dalam masyarakat, Kristoforus mengalami perjumpaan dengan Yesus yang tersalib. Pengalaman itu membuat dirinya ‘jatuh’ tak berdaya. Setan, yang selama ini menjadi tuannya lari tunggang langgang meninggalkan dirinya. Setan tidak berdaya berhadapan dengan Yesus yang tersalib. Kristoforus menyerah kalah oleh kekuatan Yesus yang tersalib. Ia mulai bangkit dan pulang dengan rasa hati yang gundah. Ditengah kegundahan itu, Kristoforus terus memikirkan pengalaman yang baru saja ia alami.
Ia mencari ‘guru’ yang dapat menceritakan kepadanya tokoh yang tersalib. Ada murid Yesus di Asia Kecil. Murid itu menceritakan kisah Yesus dengan semua karya-Nya. Kristoforus semakin jatuh hati kepada pribadi tokoh Yesus. Sejak saat itu memutuskan menjadi pengikut Yesus. Ia mendirikan pondok kecil ditepi sungai. Hidupnya dihabiskan untuk bedoa dan menolong setiap orang yang hendak men yeberang sungai. Banyak orang terbantu oleh karya Kristoforus, sampai suatu hari ia mengalami peristiwa iman yang semakin menguatkan kepercayaannya kepada Yesus.
Seperti biasanya, ia menyeberangkan orang. Pada hari itu, ada seorang anak kecil hendak menyeberangi sungai. Anak itu seorang diri. Kristoforus, seperti biasa, dengan keceriaanya langsung menyeberangkan anak itu dengan memanggul di pundaknya. Ketika hampir sampai ditengah sungai, air begitu tenang, tidak seperti biasanya deras. Tapi, ia merasakan hal aneh. Anak yang ada di atas pundaknya terasa mulai berat. Ia menoleh kepada si anak, dan si anak tersenyum, seolah berucap terima kasih. Kristoforus seoalah tidak mau merasakan beban yang di bawanya semakin berat. Persis ditengah sungai, kristoforus tidak kuat lagi menyeberang sungai membawa anak itu. Tiba-tiba ia, terjatuh karena beratnya beban dan arus sungai meulai bergerak semakin keras. Kristoforus pun pasrah. Tiba-tiba apa yang terjadi? Anak kecil yang tadi dipanggul di pundak Kristoforus, berubah menjadi orang dewasa. Orang tersebut engulurkan tangan-Nya memegang tangan kristoforus, sambil berkata: “Akulah Jesus, Raja Semesta Alam”. Seketika itu Kristoforus sudah sampai di seberang sungai, dan orang itu telah lenyap dari pandangannya.
Kristoforus tertegun, menangis bersyukur karena mengalami peristiwa diselamatkan oleh Yesus untuk kedua kalinya. Ia teringat peritiwa dimana Yesus menarik tangan Petrus yang kurang percaya ketika Petrus hendak tenggelam ke dalam danau. Kristoforus sadar, selama ini kendati ia telah mengamdi kepada Yesus, ia masih merasa paling kuat dengan men yeberangkan orang. Ia masih tergoda berpikir bahwa dirinyalah yang menyeberangkan setiap orang yang hendak ke seberang sungai. Sejak saat itu, ia berganti nama menjadi Kristoforus (artinya “pembawa Kristus”) Kristoforus memberikan dirnya untuk membawa semakin banyak orang berjumpa dengan Yesus. Hidup adalah pertobatan, dan itu artinya membiarkan diri dipakai oleh Tuhan untuk karya menyelamatkan-dalam konteks Santo Kristoforus-menghantar semakin banyak orang kepada pencerahan.
Santo Kristoforus mati sebagai martir tahun 249 di Lycia, Asia Kecil, sekarang menjadi Turkey. Ia diangkat menjadi pelindung orang yang mengadakan perjalanan, khususnya pelindung lalu lintas. Pestanya dirayakan setiap tanggal 24 Juli. (diceritakan kembali oleh Agustinus P)
Kisah Hidup Santo Kristoforus kaya akan makna simbolis yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas Hati Kudus, antara lain:
Pertobatan atau metanoia
Kata tersebut muncul dalam PB kurang lebih 58 kali dan selalu diterjemahkan "bertobat"; kecuali dalam Lukas 17:3 (menyesal) dan Ibrani 12:17 (memperbaiki kesalahan). Arti mendasar kedua kata diatas ialah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang samasekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepadaNya.
Cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak yang dilandasakan pada sikap yang mengarah kepada kehendak Allah atau sikap rendah hati. Sikap tobat ini akan menghantar orang pada perilku:
Menghargai diri sendiri
Menghargai orang lain
Menghargai profesi menjadi bagian dari panggilan Tuhan
Mampu melihat setiap peristiwa menjadi bagian dari pendewasaan diri
Kejujuran
Dalam konteks pengalaman St. Kristoforus,kejujuran terletak pada kerelaan dirinya menerima perubahan iman/cara berpikirnya. Dari iman/cara berpikir setan yang paling kuat menajdi Yesus yang tersalib; dan dari dirinya penyeberang menjadi Yesus yangkuat yang memakai dirinya untuk menyeberangkan. Implikasi dari nilai ini sangat besar dalam pembelajaran di sekolah, dari level tertinggi sampai level paling bawah. Pelaporan dan pertanggung jawaban merubakan operasionalisasi dari nilai kejujuran, implikasi dari perubahan cara berpikir.
Dalam konteks pengalaman Santo Kristoforus, pertobatan terjadi pada saat Kristoforus mengami perjumpaan dengan Yesus sampai dua kali. Ia terjatuh, tapi ia berani bangkit dan mohon pertolongan dari Yesus.
Pengalaman tersebut memiliki makna yang mendalam. Setiap manusia pernah mengalami pengalaman ‘jatuh’ yang mengakibatkan pada rasa kecewa, sakit hati dan putus asa. Berani bangkit dari kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan merupakan pertobatan. Hal itu akan semakin mudah direfleksikan ketika manusia membiasakan diri dengan kegiatan rohani seperti rekoleksi, retret, doa dan memBACA/KAN firman Tuhan. Hal yang sangat mendasar sebagai sumber dari kekuatan untuk bangkit dari kejatuhan adalah perayaan Ekaristi
Penghargaan Terhadap Martabat Manusia
Ekaristi selain sebagai sumber kekuatan untk bangkit dari kejatuhan juga terutama dan pertama menjadi pusat dan sumber kehidupan umat kristiani. Spritualitas Santo Kristoforus ‘meyeberangkan’ orang lain adalah sikap penghargaan terhadap martabat manusia. spiritualitas itu digali Kristoforus dari spritualitas Hati Yesus. Peristiwa lambung Yesus yang tertikam di kayu salib mengeluarkan darah dan air (Yoh 19:34) merupakan bentuk yang paling kelihatan dari sikap menghargai martabat manusia. peristiwa tersebut secara teologi merupakan sumber sakramen ekaristi. Keluhuran martabat manusia (Kej 1:26) yang telah dinodai dosa dibersihkan dan disucikan Yesus dalam ekaristi.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki demensi sosialitas yang tidak dapat dihindari. Sesuai fitrahnya, sosialitas manusia menuntut manusia (per se) bertindak berdasarkan pada alasan ekktrinsik. Dalam arti ini, manusia memiliki dimensi keberadaanya untuk orang lain ( man for the others) Keberadaannya akan berdampak positif bagi orang (hal) lain jika ia sebagai memiliki konsep diri yang positif. Disinilah hokum cinta kasih berlaku, “Cintailah sesamamu manusia sepeti dirimu sendiri”. Tidak mungkin seseorang dapat mencintai orang lain dengan benar jika ia tidak mencintai dirinya secara benar. Cinta diri yang benar mengandaikan konsep diri yang benar juga. Dengan demikian dapat dipahami bahwa menghargai orang lain, berarti mengahrgai diri sendiri. Penghargaan ini kentara dari semangat Santo Kristoforus dengan men yebrangkan orang lain ke seberang sungai.
Siap Sedia
Siap sedia adalah mentalitas yang menghidupi spiritualitas hati. Siap sedia merupakan sikap yang selalu menyediakan diri untuk mengemban tugas dan panggilan sebagai guru di unit mana saja dan kapan saja. Sikap ini diteladani dari sikap Yesus yang memiliki hati terbuka di utus ke dunia. Dalam sikap siap sedia ini terkandung semangat pengosongan diri (Fil 2:7), sebuah kesadaranuntuk terus terbukan terhadap perubahan, mau belajar dan mengajari dan diajari. Sikap ini juga sering disebut ‘teacheable’. Berbagai pelatihan, dan pengembangan diri merupakan bagian dari sikap untuk selalu siap sedia.
Masih banyak nilai yang dapat diturunkan dari spiritualitas Hati dan Spiritualitas Santo Kristoforus. Nilai yang satu tidak mungkin dipisahkan secara egas dengan nilai yang lain dalam rangka menghidupinya. Refleksi di atas hanya sebagai contoh nilai yang dapat ditarik sebagai dasar praksis pembelajaran di setiap unit kerja. Semoga bermanfaat dan berguna untuk kita. Demi kemuliaan Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria, dan keselematan jiwa kita semua.Amin!
Secara historis tokoh ini benar adanya, kendati tidak seluruhnya. Ia dibesarkan di Kanaan, Palestina, yang meiliki kerawakan besar dan tinggi. Nama aslinya bukanlah Kristoforus. Nama kristoforus diambil atau disebutkan bagi dirinya setelah ia mengalami pertobatan, menjadi pengikut Kristus. Kisah pergantian nama ini persis dengan pengalaman Saulus berganti nama menjadi Paulus (Kis 9:1-18)
Sebagai orang muda, Kristoforus hanya mau menjadi pengikut orang yang paling kuat. Makhlumlah pada waktu itu, kekuatan fisik menjadi ukuran bagi kesuksesan seseorang karena yang kuat, yang berkuasa. Kristoforus m uda menyaksikan kelompok yang berkuasa adalah kelompok tentara. Mereka adalah yang paling kuat diantara masyarakatnya. Namun Kristoforus heran bahwa para tentara masih tunduk kepada dewa atau kuasa setan. Dalam benak Kristoforus, setanlah yang paling kuat. Ia memutuskan mengabdi kepada setan, kuasa kegelapan.
Beredar kisah dalam masyarakat, Kristoforus mengalami perjumpaan dengan Yesus yang tersalib. Pengalaman itu membuat dirinya ‘jatuh’ tak berdaya. Setan, yang selama ini menjadi tuannya lari tunggang langgang meninggalkan dirinya. Setan tidak berdaya berhadapan dengan Yesus yang tersalib. Kristoforus menyerah kalah oleh kekuatan Yesus yang tersalib. Ia mulai bangkit dan pulang dengan rasa hati yang gundah. Ditengah kegundahan itu, Kristoforus terus memikirkan pengalaman yang baru saja ia alami.
Ia mencari ‘guru’ yang dapat menceritakan kepadanya tokoh yang tersalib. Ada murid Yesus di Asia Kecil. Murid itu menceritakan kisah Yesus dengan semua karya-Nya. Kristoforus semakin jatuh hati kepada pribadi tokoh Yesus. Sejak saat itu memutuskan menjadi pengikut Yesus. Ia mendirikan pondok kecil ditepi sungai. Hidupnya dihabiskan untuk bedoa dan menolong setiap orang yang hendak men yeberang sungai. Banyak orang terbantu oleh karya Kristoforus, sampai suatu hari ia mengalami peristiwa iman yang semakin menguatkan kepercayaannya kepada Yesus.
Seperti biasanya, ia menyeberangkan orang. Pada hari itu, ada seorang anak kecil hendak menyeberangi sungai. Anak itu seorang diri. Kristoforus, seperti biasa, dengan keceriaanya langsung menyeberangkan anak itu dengan memanggul di pundaknya. Ketika hampir sampai ditengah sungai, air begitu tenang, tidak seperti biasanya deras. Tapi, ia merasakan hal aneh. Anak yang ada di atas pundaknya terasa mulai berat. Ia menoleh kepada si anak, dan si anak tersenyum, seolah berucap terima kasih. Kristoforus seoalah tidak mau merasakan beban yang di bawanya semakin berat. Persis ditengah sungai, kristoforus tidak kuat lagi menyeberang sungai membawa anak itu. Tiba-tiba ia, terjatuh karena beratnya beban dan arus sungai meulai bergerak semakin keras. Kristoforus pun pasrah. Tiba-tiba apa yang terjadi? Anak kecil yang tadi dipanggul di pundak Kristoforus, berubah menjadi orang dewasa. Orang tersebut engulurkan tangan-Nya memegang tangan kristoforus, sambil berkata: “Akulah Jesus, Raja Semesta Alam”. Seketika itu Kristoforus sudah sampai di seberang sungai, dan orang itu telah lenyap dari pandangannya.
Kristoforus tertegun, menangis bersyukur karena mengalami peristiwa diselamatkan oleh Yesus untuk kedua kalinya. Ia teringat peritiwa dimana Yesus menarik tangan Petrus yang kurang percaya ketika Petrus hendak tenggelam ke dalam danau. Kristoforus sadar, selama ini kendati ia telah mengamdi kepada Yesus, ia masih merasa paling kuat dengan men yeberangkan orang. Ia masih tergoda berpikir bahwa dirinyalah yang menyeberangkan setiap orang yang hendak ke seberang sungai. Sejak saat itu, ia berganti nama menjadi Kristoforus (artinya “pembawa Kristus”) Kristoforus memberikan dirnya untuk membawa semakin banyak orang berjumpa dengan Yesus. Hidup adalah pertobatan, dan itu artinya membiarkan diri dipakai oleh Tuhan untuk karya menyelamatkan-dalam konteks Santo Kristoforus-menghantar semakin banyak orang kepada pencerahan.
Santo Kristoforus mati sebagai martir tahun 249 di Lycia, Asia Kecil, sekarang menjadi Turkey. Ia diangkat menjadi pelindung orang yang mengadakan perjalanan, khususnya pelindung lalu lintas. Pestanya dirayakan setiap tanggal 24 Juli. (diceritakan kembali oleh Agustinus P)
Kisah Hidup Santo Kristoforus kaya akan makna simbolis yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas Hati Kudus, antara lain:
Pertobatan atau metanoia
Kata tersebut muncul dalam PB kurang lebih 58 kali dan selalu diterjemahkan "bertobat"; kecuali dalam Lukas 17:3 (menyesal) dan Ibrani 12:17 (memperbaiki kesalahan). Arti mendasar kedua kata diatas ialah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang samasekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepadaNya.
Cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak yang dilandasakan pada sikap yang mengarah kepada kehendak Allah atau sikap rendah hati. Sikap tobat ini akan menghantar orang pada perilku:
Menghargai diri sendiri
Menghargai orang lain
Menghargai profesi menjadi bagian dari panggilan Tuhan
Mampu melihat setiap peristiwa menjadi bagian dari pendewasaan diri
Kejujuran
Dalam konteks pengalaman St. Kristoforus,kejujuran terletak pada kerelaan dirinya menerima perubahan iman/cara berpikirnya. Dari iman/cara berpikir setan yang paling kuat menajdi Yesus yang tersalib; dan dari dirinya penyeberang menjadi Yesus yangkuat yang memakai dirinya untuk menyeberangkan. Implikasi dari nilai ini sangat besar dalam pembelajaran di sekolah, dari level tertinggi sampai level paling bawah. Pelaporan dan pertanggung jawaban merubakan operasionalisasi dari nilai kejujuran, implikasi dari perubahan cara berpikir.
Dalam konteks pengalaman Santo Kristoforus, pertobatan terjadi pada saat Kristoforus mengami perjumpaan dengan Yesus sampai dua kali. Ia terjatuh, tapi ia berani bangkit dan mohon pertolongan dari Yesus.
Pengalaman tersebut memiliki makna yang mendalam. Setiap manusia pernah mengalami pengalaman ‘jatuh’ yang mengakibatkan pada rasa kecewa, sakit hati dan putus asa. Berani bangkit dari kekecewaan, kesedihan dan keputusasaan merupakan pertobatan. Hal itu akan semakin mudah direfleksikan ketika manusia membiasakan diri dengan kegiatan rohani seperti rekoleksi, retret, doa dan memBACA/KAN firman Tuhan. Hal yang sangat mendasar sebagai sumber dari kekuatan untuk bangkit dari kejatuhan adalah perayaan Ekaristi
Penghargaan Terhadap Martabat Manusia
Ekaristi selain sebagai sumber kekuatan untk bangkit dari kejatuhan juga terutama dan pertama menjadi pusat dan sumber kehidupan umat kristiani. Spritualitas Santo Kristoforus ‘meyeberangkan’ orang lain adalah sikap penghargaan terhadap martabat manusia. spiritualitas itu digali Kristoforus dari spritualitas Hati Yesus. Peristiwa lambung Yesus yang tertikam di kayu salib mengeluarkan darah dan air (Yoh 19:34) merupakan bentuk yang paling kelihatan dari sikap menghargai martabat manusia. peristiwa tersebut secara teologi merupakan sumber sakramen ekaristi. Keluhuran martabat manusia (Kej 1:26) yang telah dinodai dosa dibersihkan dan disucikan Yesus dalam ekaristi.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki demensi sosialitas yang tidak dapat dihindari. Sesuai fitrahnya, sosialitas manusia menuntut manusia (per se) bertindak berdasarkan pada alasan ekktrinsik. Dalam arti ini, manusia memiliki dimensi keberadaanya untuk orang lain ( man for the others) Keberadaannya akan berdampak positif bagi orang (hal) lain jika ia sebagai memiliki konsep diri yang positif. Disinilah hokum cinta kasih berlaku, “Cintailah sesamamu manusia sepeti dirimu sendiri”. Tidak mungkin seseorang dapat mencintai orang lain dengan benar jika ia tidak mencintai dirinya secara benar. Cinta diri yang benar mengandaikan konsep diri yang benar juga. Dengan demikian dapat dipahami bahwa menghargai orang lain, berarti mengahrgai diri sendiri. Penghargaan ini kentara dari semangat Santo Kristoforus dengan men yebrangkan orang lain ke seberang sungai.
Siap Sedia
Siap sedia adalah mentalitas yang menghidupi spiritualitas hati. Siap sedia merupakan sikap yang selalu menyediakan diri untuk mengemban tugas dan panggilan sebagai guru di unit mana saja dan kapan saja. Sikap ini diteladani dari sikap Yesus yang memiliki hati terbuka di utus ke dunia. Dalam sikap siap sedia ini terkandung semangat pengosongan diri (Fil 2:7), sebuah kesadaranuntuk terus terbukan terhadap perubahan, mau belajar dan mengajari dan diajari. Sikap ini juga sering disebut ‘teacheable’. Berbagai pelatihan, dan pengembangan diri merupakan bagian dari sikap untuk selalu siap sedia.
Masih banyak nilai yang dapat diturunkan dari spiritualitas Hati dan Spiritualitas Santo Kristoforus. Nilai yang satu tidak mungkin dipisahkan secara egas dengan nilai yang lain dalam rangka menghidupinya. Refleksi di atas hanya sebagai contoh nilai yang dapat ditarik sebagai dasar praksis pembelajaran di setiap unit kerja. Semoga bermanfaat dan berguna untuk kita. Demi kemuliaan Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria, dan keselematan jiwa kita semua.Amin!
Minggu, 29 Maret 2009
Belajar Bertanggung Jawab Sebagai Pelajar
Bertanggungg jawab adalah salah satu nilai yang sangat penting dalam kehidupan. Tanpa nilai ini, kita tidak dapat bayangkan kehidupan macam apa yang akan terjadi dalam masyarakat. Manusia akan saling menjatuhkan, setiap orang akan memperjuangkan kepentingannya sendiri sekalipun dengan cara menghancurkan kehidupan orang lain. Tidak ada keharmonisan, tidak ada ketertiban. Tatanan social akan menjadi sebagai masyarakat yang digambarkan Thomas Hobbes sebagai “homo homini lupus” yakni manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Bertanggung jawab berasal dari dua kata bahasa Inggris respond yang berarti tanggap atau menanggapi dan ability yang berarti kemampuan. Responsibility mengandung arti ‘kemampuan menanggapi’, kemampuan seseorang menanggapi sesuatu yang terjadi di dalam atau di luar dirinya. Terkait dengan “kemampuan menanggapi” terdapat dua jenis tipe orang yakni tipe orang reaktif dan tipe orang proaktif. Reaktif adalah cara seseorang menanggapi sesuatu setelah orang yang bersangkutan mendapatkan nasihat, perintah, instruksi dan bahkan ultimatum. Orang ini bertindak berdasarkan dorongan dari luar dirinya. Dalam kondisi yang sangat parah, orang bertindak setelah dipaksa-paksa. Kesadaran akan yang ‘lain’ di luar dirinya sangat lemah, karena itu juga kesdaran dirinya juga lemah. Tipe kedua adalah proaktif. Tipe ini menandakan kedewasaan seseorang, dan kesdaran akan dirinya sangat tinggi. Ia bertindak dan berperilaku sangat positif, ia cepat tanggap terhadap peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang ini tahu apa yang harus dilakukan, dan mengapa melakukan itu. Ia juga mengetahui kapan bertindak dan saat kapan tidak bertindak. Semua tindakannya didasari pada nilai. Orang inilah yang sering disebut orang sebagai pribadi yang tahu diri, empati dan simpati. Dan inilah makna terdalam nilai tanggung jawab atau responsibility. Proaktif adalah roh yang terkandung di dalam nilai tanggung jawab.
Bertanggung jawab, sebagai pelajar? Belajar? Itu pasti! Tapi belajar yang bagaimana? Belajar sebagai tindakan proaktif atau sebagai tindakan reaktif? Seorang pelajar yang belajar setelah merasa bosan dinasihati, atau karena perintah, instruksi atau bahkan karena diultimatum, tentu saja bukanlah bertanggung jawab. Ia belajar sebagai reaksi dari sebuah ‘ancaman’ luar. Tindakan yang tidak didasarkan pada kesadaran diri. Kendati ia belajar, ia melakukannya secara terpaksa, ia belajar untuk sesuatu di luar dirinya, bukan untuk dirinya. Dalam konteks ini, pelajar bukan belajar tetapi melindungi diri terhadap ‘ancaman’ luar. Hasil yang diperoleh tentu saja tidak maksimal karena belajar menjadi kamuflase. Sikap seperti ini sangat merugikan diri sendiri. Jelas ini bukan sebuah proses menuju kepada kesuksesan. Belajar karena kesadaran akan pentingnya nilai belajar untuk kesuksesan diri merupakan tindakan proaktif. Belajar sebagai perilaku ‘tanggap’ terhadap kesadaran diri bahwa hidupnya adalah tanggung jawab dirinya. Kesadaran yang muncul dari dalam diriya, dan ini adalah dorongan intrinsic yang tidak ada satu orang pun dapat menghalanginya. Seseorang yang memiliki dorongan intrinsic untuk belajar, ia akan tetap belajar kendati tidak ada guru di kelas, kendati semua siswa rebut, ia akan terus belajar. Ia sadar bahwa waktu adalah sangat berharga. Ia mengetahui tindakan mana yang benar dan mana yang salah, ia mengerti bahwa keputusannya saat ini akan menentukan kualitas dirinya. Ini lah pribadi yang bertanggung jawab.
Menjadi pribadi yang bertanggung jawab adalah proses, tetapi proses yang dimulai saat ini, di sini. Bukan proses nanti, kemudian dan yang akan datang. Mau menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mulailah sekarang atau kemudian akan menyesal. Mari sadari “Anda mau menjadi seperti apa, Andalah yang menentukan” dan Anda hari ini adalah hasil dari keputusan Anda kemarin. (agus )
Selasa, 17 Maret 2009
TIPS MENGHADAPI UJIAN
Bila disadari dan direnungkan, setiap hari manusia dihadapkan pada ujian, dalam arti sesuatu yang harus dihadapi untuk perkembangan diri sebagai manusia yang sedang dalam proses menjadi (on becoming). Perlu disadari bahwa keberadaan manusia adalah dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan/keadaan yang lebih sempurna. Bagi anak sekolah-pelajar maupun mahasiswa- ujian tidak jarang menjadi momok, yang berakibat memperburuk hasil akhir. Tingkat stress diantara para siswa dan mahasiswa naik seiring dengan mendekatnya waktu ujian. Padahal dengan demikian hasil yang dicapai biasanya kontradiktif dengan harapan dan usaha yang dilakukan. Berikut ini adalah tips yang dapat dipakai untuk memaksimalkan efektifitas usaha/belajar dalam rangka menghadapi ujian. Barangkali tips bukan cara yang sempurna, tetapi paling tidak membantu mereka yang mau dan benar-benar mempersiapkan hasil belajar yang lebih baik. Tips tersebut sebagai berikut:
1. Buatlah hatimu dan pikiranmu tenang. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan relaksasi, yaitu dengan melatih diri melalui pengaturan pernafasan. Lakukan ini setiap kali anda hendak belajar. Sambil anda melakukan pengaturan pernafasan, katakana pada diri sendiri ‘saya siap’, ‘saya siap’. Lakukan ini beberapa kali pernafasan sampai anda tenang. Inilah yang dimaksud sugesti diri
2. Afirmasi diri. Maskudnya adalah yakinkan diri sendiri bahwa anda pasti mampu mencapai hasil yang baik. Afirmasi ini didasari dengan persiapan yang selama ini anda lakukan. Tentu saja, bagi mereka yang tidak pernah melakukan persiapan/belajar sebelumnya, afirmasi ini akan sangat sulit dilakukan karena alam kesadaran anda akan menolak aformasi tersebut.
3. Isilah waktu anda dengan melihat kembali (mereview) hal-hal yang penting dan mendasar. Jangan anda mempelajari seluruh materi secara lengkap dalam waktu yang sangat terbatas karena hal itu justru akan membuat anda gelisah dan kegilasahan tersebut menghasilkan energy negative, kecemasan dan ketidaknyamanan. Bila ini yang terjadi, maka langkah awal belum berhasil. Agar pengulangan anda efektif, buatlah tulisan pada kertas kecil-sejenis kartu tik-yang dapat anda bawa kemanapun anda pergi. Inilah yang dimaksud me-remind. Pada tahap ini anda jangan tergoda untuk membuat catatan materi yang anda tidak punyai karena hal ini menyita waktu anda dan akan menggoda anda menjadi tidak nyaman. Tulisan yang anda buat sebaiknya berbentuk : standar kompetensi-atau kompetensi dasar-atau indicator. Ini berarti bukan deskripsi.
4. Lakukan repetisi secara monolog. Lakukan hal itu secara berulang kali dengan cara anda menjelaskan dengan suara yang dapat anda dengar sehingga anda semakin yakin diri.
5. Jagalah kesehatan dan pola makan anda. Apapun yang anda rasakan masih kurang dalam persiapan ujian, usahakan anda etap menjaga kesehatan dan pola makan. Kondisi fisik yang kurang sehat akan sama dampaknya dengan kondisi psikis yang kurang sehat.
6. Jangan lupa berdoa. Doa akan membantu anda semakin tenang dan siap menghadapi ujian, karena dengan doa, anda akan merasa tidak sendirian. Tuhan selalau menyertai anda dan memberkati usaha anda.
7. Pada saat ujian, uasahakan tenang atau ‘nervous’. Kerjakan soal yang mudah terlebih dahulu, dan berilah tanda terhadap soal yang belum anda kerjakan agar tidak ada soal yang tidak terjawab.
Semoga dengan tips ini anda menjadi lebih siap menghadapi ujian. Kesiapan mental anda adalah 80% dari kesuksesan itu sendiri. Kesiapan mental anda menyangkut pola piker, untuk membentuk pola rasa dan menghasilkan pola tindakan. “Pikiranmu adalah takdirmu” kata Adam Khoo.
1. Buatlah hatimu dan pikiranmu tenang. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan relaksasi, yaitu dengan melatih diri melalui pengaturan pernafasan. Lakukan ini setiap kali anda hendak belajar. Sambil anda melakukan pengaturan pernafasan, katakana pada diri sendiri ‘saya siap’, ‘saya siap’. Lakukan ini beberapa kali pernafasan sampai anda tenang. Inilah yang dimaksud sugesti diri
2. Afirmasi diri. Maskudnya adalah yakinkan diri sendiri bahwa anda pasti mampu mencapai hasil yang baik. Afirmasi ini didasari dengan persiapan yang selama ini anda lakukan. Tentu saja, bagi mereka yang tidak pernah melakukan persiapan/belajar sebelumnya, afirmasi ini akan sangat sulit dilakukan karena alam kesadaran anda akan menolak aformasi tersebut.
3. Isilah waktu anda dengan melihat kembali (mereview) hal-hal yang penting dan mendasar. Jangan anda mempelajari seluruh materi secara lengkap dalam waktu yang sangat terbatas karena hal itu justru akan membuat anda gelisah dan kegilasahan tersebut menghasilkan energy negative, kecemasan dan ketidaknyamanan. Bila ini yang terjadi, maka langkah awal belum berhasil. Agar pengulangan anda efektif, buatlah tulisan pada kertas kecil-sejenis kartu tik-yang dapat anda bawa kemanapun anda pergi. Inilah yang dimaksud me-remind. Pada tahap ini anda jangan tergoda untuk membuat catatan materi yang anda tidak punyai karena hal ini menyita waktu anda dan akan menggoda anda menjadi tidak nyaman. Tulisan yang anda buat sebaiknya berbentuk : standar kompetensi-atau kompetensi dasar-atau indicator. Ini berarti bukan deskripsi.
4. Lakukan repetisi secara monolog. Lakukan hal itu secara berulang kali dengan cara anda menjelaskan dengan suara yang dapat anda dengar sehingga anda semakin yakin diri.
5. Jagalah kesehatan dan pola makan anda. Apapun yang anda rasakan masih kurang dalam persiapan ujian, usahakan anda etap menjaga kesehatan dan pola makan. Kondisi fisik yang kurang sehat akan sama dampaknya dengan kondisi psikis yang kurang sehat.
6. Jangan lupa berdoa. Doa akan membantu anda semakin tenang dan siap menghadapi ujian, karena dengan doa, anda akan merasa tidak sendirian. Tuhan selalau menyertai anda dan memberkati usaha anda.
7. Pada saat ujian, uasahakan tenang atau ‘nervous’. Kerjakan soal yang mudah terlebih dahulu, dan berilah tanda terhadap soal yang belum anda kerjakan agar tidak ada soal yang tidak terjawab.
Semoga dengan tips ini anda menjadi lebih siap menghadapi ujian. Kesiapan mental anda adalah 80% dari kesuksesan itu sendiri. Kesiapan mental anda menyangkut pola piker, untuk membentuk pola rasa dan menghasilkan pola tindakan. “Pikiranmu adalah takdirmu” kata Adam Khoo.
Langgan:
Entri (Atom)

